Wajah

"Wajah memberitahu banyak hal..."
Aku mengandaikan wajahku ini sebagai 'cermin'. Dia akan meneropong jauh di dalam kalbu untuk sekedar menceritakan kondisi kejiwaan seseorang [aku].
Tidak terlalu berlebihan jika dari wajahku ini, aku melakukan self assessment terhadap segala apa yang kualami dan kurasakan.
1) Bibir
Bibir yang terkatup rapat menandakan keengganan untuk berbagi suara atau bicara. Ini sebagai simbolisasi bahwa hatiku pun sedang enggan untuk bertutur sapa. Hati yang sibuk dengan prasangka dan perbuatannya sendiri sampai lupa fungsi sosial sebuah hati dimasyarakat. [Hmmm...]
2) Mata
Mata yang redup menceritakan bahwa semangat dalam kalbuku pun sedang meredup. Ini bagaikan bintang supernova yang kehilangan cahayanya setelah berpendar habis2an memancarkan energi. Begitu pula aku. Kelelahan menghadapi semester yang gila2an, dan masalah yang bertubi2 harus kuhadapi sendirian di negeri orang membuatku kehilangan sebagian besar energiku. Namun satu hal: energiku ini bukan sesuatu yang habis selamanya. Ini adalah rechargeable sources. Aku hanya butuh waktu sejenak untuk menyadari bahwa aku kelelahan. Lalu mengambil waktu sejenak untuk bersandar dan beistirahat, serta memulihkan semangat.
3) Kulit
Kulit adalah bagian tubuh yang banyak bersentuhan langsung dengan dunia luar. Kulist yang kusam menandakan bahwa aku telah bersentuhan langsung dengan lingkungan yang juga 'kusam'. Benar. Saat ini lingkungan spiritual yang aku hadapi adalah lingkungan yang kosong dari nilai agama dan dogma. Ketika aku ingin bertahan dengan agama dan dogma ku itu, mau tak mau artinya aku melawan arus. Sebuah pergerakan sekecil apapun jika melawan arus, akan berakibat sangat besar.
Inilah aku... kadang menantang diri sendiri untuk menggelar sajadah panjang dan menyimpuhkan diri di hadapan-Nya. Namun seringkali aku tak kuasa untuk mengontrol keseimbangan kehidupan spiritual dan phisical.
Jadilah aku seperti ini: kulit tanpa cahaya.
Ternyata..oh...ternyata...Raga manusia justru merefleksikan bahwa manusia itu bukan hanya sekedar raga.
0 Comments:
Post a Comment
<< Home