Eikasalim

Eika Salim adalah keluarga baru yang sedang belajar untuk mengarahkan bahtera rumah tangganya ke lautan luas sana.. menuju pulau yang bernama samara

Tuesday, January 24, 2006

Pengembaraan Salim

Jakarta

Jakarta adalah ladang
Jakarta adalah sawah
Jakarta adalah kebun
Jakarta bukan kota
Jakarta adalah belantara
Dimana hukum hukumnya lebih kejam dari hukum rimba

Sta Jatinegara, Juli 2002


Karna Dunia tlah dititipkan

Kini kita tau bahwa kebebasan ekstrim adalah anarkisme
Dan pengikatan berlebihan adalah penindasan
Kedaulatan yang adil adalah kepemimpinan oleh diri sendiri
Tanpa supremasi keadilan,
Segala macam tatanan menjadi sia sia
Maka diri mesti berdiri tegak
Wajah berhadap wajah dengan yang lain
Tanpa tunduk maupun tenggadah

Karna Tuhan tlah menitipkan dunia dalam genggaman kita

Shabran, Jan 2003


Perempuan malam

Sekarang, lebih banyak lagi wanita wanita malam
Tidak hanya yang berdiri di pinggir jalan
Menunggu sapaan dan jemputan pria hidung belang
Atau di hotel hotel, losmen losmen dan rumah penginapan
Remang remang
Menemani om om kesepian
Atau juga putri putri di kos kosan yang kelihatan sopan
Tapi menunggu panggilan datang

Mereka adalah wanita yang bekerja membanting tulang di waktu malam
Memutar roda roda produksi sebuah perusahaan kacang
Sementara yang lain tidur dengan suami tercinta di ranjang
Demi hidup mereka rela mengorbankan malam indah di peraduan, tanpa uang lemburan
Sampai satu saat produksi harus dirampingkan
Sebagian harus pasrah menjadi pengangguran
Mungkin tanpa uang jaminan yang layak bagi kemanusiaan
Kasihan, mereka bilang daripada nggak makan
Atau menjadi wanita jalang

Jatiroto, Maret 2003


Jalan ke sebrang

Kawan, tunjukan padaku yang mana jalan kesana
Barapa lama kita kan sampai
Lalu, siapa yang menunggunya

Di sini tiada lagi yang bisa diharapkan
Kehidupan makin garang bermusuhan
Segala isi daratan-lautan mati pelan pelan
Entah berapa lama lagikah kita bertahan
Ketika semua nyanyian telah jadi tangisan

Tunjukkan padaku titian itu
Perlintasan dimana kita kan bertemu sang Ratu
Yang padanya sirna segala yang semu
Terbit kemudian hari penuh lagu

Oh terbitlah terbit segala yang padu
Sirnalah sirna segala yang semu
Bukalah jalan kemana segala unsur kehidupan tertuju

Shabran, Nov 2003



Merekah,
Jingga
Kembang kembang sumringah
Bewarna, penuh pesona

Ku tau kau ada tapi tiada
Tak peduli
Apapun itu
Biarkan ini mengalir
Mencurah
Pancarkan daya hidup melimpah limpah

Puputan, Feb 2005


taken from my daily notes
Kang Salim

0 Comments:

Post a Comment

<< Home