Bila masalah meraja...
Bila terjadi konflik atau masalah dalam hidup, ada dua hal yang sering dilakukan manusia. Pertama, dalam diri seorang pengecut yang muncul adalah "lari".
Itu adalah sifat dasar manusia. Betapa banyaknya manusia yang lari dan menjadipelarian jika dihadapakan pada konflik dan perang dalam hidupnya. Apapun bentuk dan nama dari konflik itu, entah itu masalah, entah itu rasa sakit, entah itu amarah: manusia lebih suka menjadi pelari dan lari dari segala bentuk kesulitan yang dia hadapi. Atau justru meletakkan masalah2 tersebut dalam kotak2, tanpa berani untuk menyentuhnya atau bersentuhan dengannya,menyegelnya rapat2, untuk kemudian diam dan membuangnya. Bahkan, ketika bangkai2 masalah didalam kotak2 itu mengeluarakan aroma tidak sedap, kebanyakan orang tetap tidak mau membukanya lagi. Mereka berpaling, tidak mau menengok, dan pura2 tidak pernah bersentuhan dengannya pada suatu saat dimasa lalu. Buruknya malah, beberapa orang membiarkan masalah itu menjadi kontroversi dan bahan pergunjingan. Dan itulah yang justru membuat dunia ini rame dengan fitnah dan kepura-puraan. Sehingga sejarah tidak pernah hitam atau putih, melainkan abu2. Itu karena pelaku2 sejarah adalah manusia2 pelari yang lebih suka cuci tangan dari pada menyampaikan suatu bentuk klarifikasi dan kebenaran. Bahkan, ketika para pelari itu masuk di dalam peradilan dunia pun, kadang bukan suatu fakta yang keluar dari mulut2 mereka. Sehingga akhirnya yang terbukukan dan terbakukan dalam buku sejarah peradaban manusia adalah kotak-kotak yang tersegel rapat dengan sampul warna abu-abu.
Kedua, walau sedikit, masih ada juga orang yang menjadi satria dalam menghadapi masalah. Namun memang hanya sedikit sekali orang dengan sifat kemanusiaannya yang mau mendongakkan kepala, membersihkan tenggorokan dari kepalsuan dan kepura-puraan dan menceritakan apa adanya selugu-lugunya pada dunia tentang masalah yang dihadapinya. Terlalu sedikit orang yang berani menggoreskan warna hitam atau putih dengan tegas dalam sejarah hidupnya. Hanya beberapa, setidaknya dalam pengamatanku, yang berani menerangkan dengan gamblang sejarahnya sendiri. Salah satunya, telah mati tentu saja, adalah Nietszche. Sastrawan gila tersebut, dibalik semua ide gila dan pengingkarannya, adalah salah satu orang yang berani dengan tegas mengakui pengingkaran dirinya: "Tuhan telah mati" katanya. Namun yang menjadi satu bahan garis bawah tentu saja bukan kalimat dia bahwa "tuhan telah mati", melainkan keberanian dia menggoreskan tinta hitam dan membuka bangkai dalam kotak-kotak hidupnya sendiri.
Nietszche punya seribu alasan untuk menyatakan "Tuhan telah mati", dan apapun alasan yang dia rekam, bukan tanpa dasar dan latar belakang. Nah, poinnya alangkah beraninya Si Nietzche itu menggoreskan dengan tegas tinta hitam dalam sejarahnya, dengan tegas mengemukakan pendapatnya, dan mengklarifikasi melalui bukunya dan tokohnya "Zaratrustha". Hmm..jika dibanding dg Nietszche berapa banyak tokoh yang tidak mampu mengklarifikasi sejarahnya sendiri, sehingga masyarakat seenaknya menerjemahkan keabuan-abuan sang tokoh dan mengejawantahkannya menjadi berbagai warna. Cobalah lihat dari kasus Sukarno, dia gagal menggoreskan ketegasan sikapnya melalui tulisannya dan pidatonya, sehingga sampai sekarang pun masih banyak kontroversi yang muncul apakah arti dari keabu-abuan seorang Sukarno. Dan apakah Sukarno masih bisa menjelaskan arti hitam dan putih sejarahnya?
But wait a minute.... Setidaknya Sukarno pun pernah menjelaskan hitam putih sejarahnya melalui Nawaksara. Namun, kenapa penjelasan itu jadi tidak bermakna ya? Masih saja ada yang mengabu-abukan ketokohan dan kesejarahan beliau.
So, mungkin otakku yang harus dibalik. Manusia tidak akan bisa menjelaskan kesejarahannya sendiri. Hanya orang lain yang bisa. Betapapun kuat dan kencangnya kita menggoreskan tinta tegas putih atau hitam dalam kesejarahan kita pribadi, tetap saja ada yang akan mengomentari dan menerjemahkan dengan lain tafsiran. Ah, setidaknya, tidak usah banyak teori, berani saja ungkapkan warnamu, maka sejarah tetap akan mencatatmu, walau tetap saja ada yang akan mentafsirkanmu.
Ny. Salim
0 Comments:
Post a Comment
<< Home